Ada Tanda-Tanda Rupiah Bakal Pukul Balik Dolar AS Nih!

  • by

Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga pertengahan perdagangan Kamis (25/3/2021). Meski demikian, ada tanda-tanda rupiah bakal pukul balik dolar AS di sisa perdagangan hari ini.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di level Rp 14.420/US$, setelahnya rupiah masuk ke zona merah, dengan pelemahan hingga 0,24% ke Rp 14.455/US$.

Rupiah berhasil memangkas pelemahan dan berada di level Rp 14.440/US$, melemah 0,14% pada pukul 12:00 WIB.

Tanda-tanda rupiah bisa berbalik menguat terlihat dari pergerakannya di pasar non-deliverable forward (NDF) yang siang ini lebih kuat ketimbang beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan pagi tadi.

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Sentimen pelaku pasar sedang terbebani lonjakan kasus pandemi penyakit virus corona (Covid-19), khususnya di Eropa.

Mulai akhir pekan lalu, Prancis memberlakukan karantina wilayah (lockdown) di tujuh wilayah, termasuk ibu kota Paris. Lockdown akan berlaku selama sebulan. Selain itu, berlaku jam malam secara nasional yaitu pada pukul 19:00.

Di Jerman, Kanselir Angela Merkel memutuskan untuk memperpanjang lockdown hingga 18 April 2021. Warga Negeri Panser diminta untuk tetap di rumah selama libur Hari Paskah.

Tetapi kabar baiknya, aktivitas manufaktur di Eropa malah semakin berekspansi meski terjadi lonjakan kasus. Benua Biru menjadi wilayah yang mengalami lonjakan kasus tajam, bahkan dikatakan sebagai serangan virus corona gelombang ketiga.

Tetapi, sektor manufaktur masih terus menunjukkan ekspansi, bahkan semakin tinggi. Hal tersebut menunjukkan indikasi pemulihan ekonomi masih terus berlanjut dan bisa menjadi sentimen positif di pasar.

Sumber CNBC Indonesia