Dolar AS Tersalip di Tikungan, Rupiah Gass Pol!

  • by

Rupiah kemarin berhasil membukukan penguatan tipis 0,11% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.270/US$. Penguatan tersebut beropotensi berlanjut pada perdagangan hari ini, Jumat (3/9/2021), melihat dolar AS yang “selip di tikungan”.

Indeks dolar AS yang terus mengalami tekanan sejak Jumat pekan lalu sempat bangkit pada perdagangan Rabu (1/9/2021) berusaha “menikung” membalikkan arah. Tetapi pada akhirnya indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini kembali melemah 0,2% di hari Rabu, dan berlanjut merosot 0,24% kemarin. Pagi ini, indeks dolar AS turun lagi 0,02%.

Pelaku pasar menanti rilis data tenaga kerja AS malam ini yang bisa memberikan gambaran kapan bank sentral AS (The Fed) akan melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

Hasil survei Reuters menunjukkan data non-farm payrolls (NFP) atau penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian, yang diperkirakan sebanyak 750.000 orang di bulan Agustus. Kemudian tingkat pengangguran diprediksi turun menjadi 5,2% dari sebelumnya 5,4%. Selain itu ada juga rata-rata upah per jam.

“Melihat pergerakan dolar AS, pelaku pasar kini melihat NFP kemungkinan di bawah ekspektasi, di kisaran 550.000 hingga 600.000,” kata Chris Weston, kepala riset di Papperstone, perusahaan pialang di Melbourne yang dikutip Reuters.

Jika data tenaga kerja AS buruk, maka spekulasi tapering akan dilakukan di akhir tahun ini bahkan bisa mundur ke awal tahun depan akan semakin menguat, dolar AS berisiko makin nyungsep.

Secara teknikal, belum ada perubahan level-level yang harus diperhatikan. Rupiah yang disimbolkan USD/IDR bergerak di bawah rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA 50), MA 100, dan MA 200. Artinya, rupiah bergerak di bawah 3 MA yang memberikan momentum penguatan.

Selain itu, rupiah juga sudah menembus ke bawah bullish trend line (garis warna merah) yang menguntungkan dolar AS.

Meski demikian, patut diperhatikan Indikator stochastic yang mulai masuk ke wilayah jenuh jual (oversold).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya, ketika belum mencapai wilayah oversold, rupiah yang disimbolkan USD/IDR artinya ada risiko berbalik arah alias rupiah melemah.

Selama bertahan di bawah MA 200 di kisaran Rp 14.280 hingga Rp 14.290/US$, rupiah berpeluang terus menguat ke Rp 14.250/US$. Penembusan di bawah level tersebut akan membuka peluang menuju Rp 14.200/US$.

Sementara jika kembali ke atas MA 200, rupiah berisiko melemah ke Rp 14.340/US$. Jika level tersebut dilewati, rupiah berisiko ke Rp 14.370/US$.

Sumber CNBC Indonesia