Skip to content

Isu Tapering di November Menguat, Rupiah Tak Masalah!

  • by

Rupiah kembali menunjukkan sinyal perkasa melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/9). Padahal, para pejabat elite bank sentral AS (The Fed) menunjukkan indikasi ingin segera melakukan pengurangan pembelian aset atau tapering.

Hal ini tentunya menjadi pertanda bagus, sebab rupiah mampu menahan isu tapering yang di tahun 2013 membuatnya terpuruk.

Melansir data dari Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah tipis 0,04% kle Rp 14.250/US$. Setelahnya rupiah memangkas pelemahan dan stagnan di Rp 14.250/US$ pada pukul 9:17 WIB.

Wall Street Journal beberapa waktu lalu melaporkan jika pejabat elit The Fed berkeinginan untuk melakukan tapering di bulan November.

Inflasi yang tinggi menjadi salah satu alasan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) ingin segera dilakukan.

“Proyeksi dasar saya inflasi di kisaran 4% di akhir tahun ini, dan mulai turun ke 2% pada tahun 2022 dan 2023. Meski demikian, saya juga melihat meningkatnya risiko inflasi yang tinggi,” kata Presiden The Fed wilayah Philadelphia, Patrick Harker, sebagaimana dilansir Reuters.

Harker juga mengatakan lebih memilih untuk melakukan tapering dalam waktu dekat.

“Saya ingin memulai tapering segera, jadi kita bisa mengakhiri program pembelian aset lebih cepat, jadi ketika kita perlu menaikkan suku bunga, kita punya ruang untuk melakukannnya. Dan saya pikir kami perlu mempertimbangkan pilihan tersebut,” tambahnya.

Tapering pernah terjadi di tahun 2013 dan memicu gejolak di pasar finansial yang disebut taper tantrum. Rupiah kala itu terus mengalami pelemahan hingga tahun 2015. Secara persentase pada periode tersebut Mata Uang Garuda terpuruk sekitar 50%.


Tetapi dampak tapering kali ini diperkirakan tidak akan sedahsyat 2013, sebab komunikasi The Fed dengan pasar dikatakan bagus. Selain itu, fundamental dalam negeri saat ini juga lebih kuat.

Bank Indonesia (BI) pada pekan lalu mengumumkan cadangan devisa per akhir Agustus 2021 sebesar US$ 144,8 miliar. Naik US$ 7,5 miliar dari bulan sebelumnya dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Rekor cadangan devisa sebelumnya sebesar US$ 138,8 miliar yang dicapai pada April 2021.

Dengan cadangan devisa yang besar, BI punya lebih banyak amunisi untuk menstabilkan rupiah ketika mengalami tekanan.

Selain itu, ada perbedaan mencolok dalam porsi asing di pasar obligasi dalam negeri. Pada 2013 lalu porsi asing mencapai 40%, sehingga ketika ada pergerakan keluar masuk mempengaruhi nilai tukar hingga suku bunga acuan.

Sementara berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), hingga 10 September lalu porsi asing hanya sekitar 22,4%. Sehingga ketika terjadi capital outflow tentunya tidak akan semasif di tahun 2013. 

Sumber CNBC Indonesia

You cannot copy content of this page