Keperkasaan Rupiah Menyusut, Bakal Balik Melemah nih?

Nilai tukar rupiah mampu mempertahankan penguatan melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga pertengahan perdagangan Kamis (22/4/2021). Meski demikian, penguatan rupiah semakin tipis hingga nyaris stagnan.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,17% ke Rp 14.500/US$. Setelahnya rupiah memangkas penguatan hingga stagnan di Rp 14.525/US$.

Rupiah kembali menguat tipis 0,03% ke Rp 14.520/US$, dan bertahan di posisi tersebut hingga pukul 12:00 WIB.

Melihat pergerakan di pasar non-deliverable forward (NDF) rupiah berpeluang mempertahankan penguatan di sisa perdagangan hari ini. Hal tersebut terlihat dari kurs NDF siang ini tidak berbeda jauh dari beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan pagi tadi.

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Sentimen pelaku pasar yang membaik serta indeks dolar AS yang turun membuat rupiah mampu menguat pada perdagangan hari ini. Tetapi rupiah sebenarnya masih rentan berbalik melemah.

Sebab, pemulihan ekonomi Indonesia yang masih melambat. Bank Indonesia (BI) Selasa lalu mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan 3,5%. Namun, BI menurunkan proyeksi produk domestik bruto (PDB) tahun ini menjadi 4,1-5,1% dari sebelumnya 4,3-5,3%.

“Pertumbuhan ekonomi diperkirakan 4,1-5,1%,” ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode April 2021, Selasa (20/4/2021).

Menurut Perry, satu hal yang membuat pertumbuhan ekonomi lebih terbatas adalah konsumsi swasta. Memang masih ada pertumbuhan, tetapi lajunya lebih rendah ketimbang proyeksi sebelumnya.

Terbatasnya konsumsi, lanjut Perry, disebabkan oleh mobilitas masyarakat yang masih terbatas. Indonesia memang terus menggenjot pelaksanaan vaksinasi anti-virus corona, tetapi bukan berarti sudah tidak ada pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat.

Terbatasnya mobilitas masyarakat masih terus berlanjut, bahkan semakin meluas. Sebab, pemerintah memutuskan untuk readyviewed kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro.

“Berdasarkan hasil evaluasi, pemerintah melanjutkan perpanjangan PPKM mikro tahap keenam tanggal 20 April sampai 3 Mei 2021,” kata Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto, Senin (19/4/2021).

Selain itu ada penambahan 5 provinsi yang menerapkan PPKM, yaitu Sumatra Barat, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, dan Kalimantan Barat.

PPKM diterapkan mulai 11 Januari 2021, berlaku selama dua mingguan dan sampai saat ini terus diperpanjang. Selama PPKM masih terus berlangsung, maka mobilitas masyarakat tentunya akan terbatas, sehingga roda perekonomian masih akan berjalan dengan perlahan.

Sumber CNBC Indonesia