Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, 1 Oktober 2021

  • by

Pada akhir perdagangan Kamis (30/9) mata uang Garuda tercatat melemah 20 poin atau 0,14 persen ke Rp14.312,50 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah diperkirakan mengikuti laju pergerakan mata uang regional lainnya pada perdagangan hari ini, Jumat (1/10/2021).

Pada akhir perdagangan Kamis (30/9) mata uang Garuda tercatat melemah 20 poin atau 0,14 persen ke Rp14.312,50 per dolar AS.

Pergerakan mata uang di Asia Pasifik cenderung variatif pagi ini terhadap dolar AS. Yen Jepang terpantau menguat 0,02 persen, yuan China naik 0,4 persen, dan peso Filipina menguat 0,15 persen.

Di sisi lain, ringgit Malaysia melemah 0,02 persen, baht Thailang menguat turun 0,09 persen, dan dolar Australia melemah 0,06 persen.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama lainnya terpantau menguat 0,126 poin atau 0,13 persen ke level 94,356 pada pukul 08.12 WIB.

Dolar tergelincir pada akhir transaksi Kamis, tertekan oleh kenaikan klaim pengangguran mingguan AS, dengan investor juga mengonsolidasikan keuntungan mereka setelah kenaikan tajam dalam beberapa sesi terakhir.

Klaim pengangguran awal AS naik untuk minggu ketiga berturut-turut menjadi 362.000 untuk periode yang berakhir 25 September. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan 335.000 permohonan tunjangan pengangguran untuk pekan terakhir.

Laporan lain mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi AS mengalami percepatan di kuartal kedua, pada laju 6,7 persen, berkat uang bantuan pandemi dari pemerintah, yang mendorong belanja konsumen.

“Bahkan jika dolar AS jatuh kembali sedikit lebih jauh dalam waktu dekat, kami perkirakan akan melanjutkan reli baru-baru ini pada waktunya,” ungkap asisten ekonom Capital Economics Joseph Marlow, dikutip dari Antara, Jumat (1/10/2021).

“Meskipun imbal hasil jangka panjang telah meningkat di sebagian besar ekonomi utama, imbal hasil obligasi AS telah meningkat lebih kuat dari kebanyakan dan, yang penting, sebagian besar didorong oleh imbal hasil riil yang lebih tinggi, yang mencerminkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat,” lanjutnya.

Sumber Bisnis.com