Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 1 April 2021

  • by

Rupiah diprediksi akan dibuka berfluktuasi namun kembali ditutup melemah pada rentang Rp14.530 hingga Rp14.590.

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih cenderung tertekan pada Kamis (1/4/2021) setelah berada di kisaran Rp14.500 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, pada Rabu (31/2/2021) nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 45 poin atau 0,31 persen ke level Rp14.525 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,1 persen atau 0,09 poin ke level 93,207.

Data yang diterbitkan Bank Indonesia kemarin menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp14.572 per dolar AS, anjlok 91 poin atau 0,63 persen dari posisi Selasa (30/3/2021) Rp14.481 per dolar AS.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam laporannya menjelaskan tingginya permintaan valas korporasi jelang akhir kuartal turut menkean pergerakan rupiah. Kebutuhan valuta asing (valas) memang tinggi pada akhir kuartal ini mengingat kewajiban pembayaran dividen, utang jatuh tempo, dan kebutuhan lainnya.

“Rupiah jadi banyak dilepas untuk ditukar dengan valas, utamanya dolar AS. Faktor musiman ini yang membuat rupiah melemah,” katanya.

Untuk perdagangan Kamis (1/4/2021), Ibrahim memprediksi rupiah akan dibuka berfluktuasi namun kembali ditutup melemah pada rentang Rp14.530 hingga Rp14.590.

Di sisi lain, salah satu faktor utama melemahnya rupiah adalah tren positif yang terjadi pada dolar AS. Penguatan mata uang greenback didukung oleh percepatan vaksinasi AS dan rencana paket stimulus utama memicu ekspektasi inflasi dan meningkatkan imbal hasil obligasi.

Selain itu, imbal hasil US Treasury sepuluh tahun naik ke level tertinggi 14 bulan pada hari Selasa, sehari sebelum Presiden AS Joe Biden akan menguraikan bagaimana rencana infrastruktur US$3 triliun hingga $4 triliun akan didanai. Dia juga menargetkan membuka program vaksin COVID-19 AS untuk 90 persen orang dewasa Amerika pada 19 April di awal minggu.

Sementara itu, indeks Keyakinan Konsumen CB Conference Board pada hari Selasa melonjak menjadi 109,7 pada bulan Maret, level tertinggi sejak awal COVID-19. Perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com memperkirakan angka 96,9, sedangkan indeks berada di 90,4 pada bulan Februari.

Adapun, investor tengah menunggu laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Maret, termasuk non-farm payrolls pada Jumat pekan ini. Investor akan mengamati angka-angka tersebut dengan cermat setelah Federal Reserve mengutip pasar tenaga kerja yang lesu karena sikap dovishnya yang berkelanjutan pada suku bunga. Sementara sikap Fed telah meningkatkan prospek ekonomi juga meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Sementara itu, rencana gelontoran stimulus tambahan dari AS menimbulkan dampak negatif bagi pasar Indonesia. Ia memaparkan, tambahan stimulus ini mengakibatkan ekonomi AS membaik lebih cepat dari ekspektasi para analis serta berimbas terhadap naiknya inflasi dan yield obligasi AS tenor 10 tahun sehingga berpengaruh terhadap perekonomian negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Sumber Bisnis.com