Skip to content

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Rabu 16 Maret 2022, Pantau Suku Bunga The Fed

  • by

Rupiah berpeluang menguat direntang Rp14.310 – Rp14.370 per dolar AS pada hari ini meskipun The Fed diprediksi menaikkan suku bunga.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi menguat pada Rabu (16/3/2022), meskipun dolar AS berpotensi terkerek rencana Federal Reserve menaikkan suku bunga.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam riset hariannya menyampaikan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup menguat direntang Rp14.310 – Rp14.370 per dolar AS pada hari ini.

Berdasarkan data Bloomberg, kemarin nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,04 persen atau 6,00 poin dan parkir ke posisi Rp14.326,50 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS pada pukul 15.10 WIB terpantau melemah 0,28 persen atau 0,28 poin ke level 98,7240. 

Mata uang lain di kawasan Asia seperti yen Jepang tercatat menguat 0,14 persen, peso Filipina naik 0,14 persen, dolar Hongkong naik 0,08 persen, dan rupee India naik 0,06 persen terhadap dolar AS. 

Di sisi lain, yuan China turun 0,24 persen, dolar Taiwan bergerak melemah 0,22 persen, baht Thailand turun 0,21 persen, dan won Korea Selatan turun 0,08 persen terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.  

Ibrahim menuturkan indeks dolar AS melemah kemarin karena investor kembali fokus terhadap wabah Covid-19 terbaru di China yang membuat pemerintah setempat melakukan penguncian di beberapa kota. 

Selain itu, The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya semenjak pandemi Covid-19 secara luas pada, Rabu (16/3/2022) waktu setempat. 

“Investor mengharapkan kenaikan 25 basis poin pada pertemuan ini, menurut alat Fedwatch CME. Namun, harga telah meningkat untuk menunjukkan peluang 70 persen dari kenaikan 50 basis poin yang lebih besar pada pertemuan Mei 2022, berkat meningkatnya kekhawatiran tentang inflasi,” jelas Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa (15/3/2022). 

Di sisi lain, Ibrahim mengungkapkan bahwa harapan akan tercapainya negosiasi antara Ukraina dan Rusia pekan ini membuat daya tarik pada safe-haven memudar. 

Sementara itu, dari dalam negeri dia menyampaikan bahwa Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) yang dirilis BPS kembali surplus pada Februari 2022 sesuai dengan ekspektasi pasar. 

Adapun, NPI pada bulan lalu tercatat sebesar US$3,83 miliar yang surplus US$930 juta dibandingkan dengan Januari 2022. Nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor menjadi pendorong surplus tersebut. 

Disamping itu, melonjaknya harga komoditas internasional juga turut mendorong surplus pada Februari 2022. Di mana komoditas nonmigas yang menjadi penyumbang surplus terbesar berasal dari bahan bakar mineral, lemak, dan minyak hewan atau nabati, besi dan baja. 

Ditambah lagi, menurut Ibrahim pasar juga memantau perkembangan perekonomian Indonesia  pasca pulih dari Covid-19 yang dari berbagai indikator menunjukkan proses pemulihan di dalam negeri yang berjalan lebih cepat. 

Oleh sebab itu, Ibrahim memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB) pada tahun ini akan meningkat di kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen dari pertumbuhan 3,69 persen pada 2021.

Namun sentimen positif dari domestik tidak serta merta membawa mata uang menguat tajam, yang menurut Ibrahim karena kemungkinan pelaku pasar condong memperhatikan hasil pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat yang akan mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya. 

Sumber Bisnis.com

You cannot copy content of this page