Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Rabu 27 Januari 2021

  • by

Mata uang rupiah berpeluang menguat terbatas pada perdagangan Rabu (27/1/2021) seiring dengan koreksi pasar saham dan penantian terhadap kejelasan stimulus AS.

Nilai tukar rupiah diprediksi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (27/1/2021) seiring dengan sikap investor yang menanti kejelasan stimulus AS dan hasil pertemuan The Fed.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (26/1/2021), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 42,5 poin atau 0,30 persen ke level Rp14.065 per dolar AS. Indeks dolar di sisi lain menguat 0,13 persen ke posisi 90,498. Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar kemarin.


Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam laporannya mengatakan, dari dalam negeri, perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 8 Februari 2021 masih menjad katalis utama yang melemahkan nilai rupiah.

Keputusan perpanjangan tersebut telah disampaikan oleh Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto pada pekan lalu.

Perpanjangan PPKM diprediksi mengurangi konsumsi masyarakat sehingga akan menghambat laju pemulihan ekonomi Indonesia yang berdampak negatif ke pasar. Hal tersebut terlihat dari arus modal asing yang keluar pasar dalam negeri dalam jumlah besar.

“Sehingga, wajar kalau mata uang rupiah kemarin ditutup melemah,” ujarnya.

Untuk perdagangan Rabu (27/1/2021), nilai rupiah kemungkinan akan bergerak menguat di level Rp14.060 hingga Rp14.120.

Dari luar negeri, pergerakan rupiah salah satunya dipengaruhi oleh sikap pasar yang menanti kejelasan paket stimulus US$1,9 triliun yang diajukan Presiden AS, Joe Biden.

Biden pada Senin mengungkapkan kesediaannya untuk merevisi paket stimulus fiskal yang ia ajukan melalui kolaborasi antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Meski demikian, dirinya juga mengaku siap untuk membawa proposal tersebut tanpa keterlibatan Partai Republik.

Sebelumnya, Partai Republik menyatakan penolakannya terhadap rencana paket stimulus senilai US$1,9 triliun yang dianggap terlalu besar. Sejumlah tokoh dari Partai Demokrat juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap nilai paket stimulus tersebut.

Selain itu, pertemuan bulanan The Fed diperkirakan akan berujung pada keputusan untuk mempertahankan suku bunga dalam kisaran 0 persen hingga 0,25 persen. Laju pembelian obligasi bulanan diharapkan akan dipertahankan pada kecepatan bulanan sebesar US$120 miliar.

Dengan prospek The Fed yang akan mempertahankan kebijakan moneternya, perhatian investor akan fokus pada nada dari bank sentral mengenai prospek ekonominya.

Sumber Bisnis.com