Skip to content

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Selasa 17 Mei 2022

  • by

Pada akhir perdagangan pekan lalu, rupiah terkoreksi 14,5 poin atau 0,10 persen menembus Rp14.612 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah diperkirakan bakal dipengaruhi gerak indeks dolar AS dan rilis data perdagangan pada perdagangan hari ini, Selasa (17/5/2022).

Pada akhir perdagangan pekan lalu, rupiah terkoreksi 14,5 poin atau 0,10 persen menembus Rp14.612 per dolar AS, saat indeks dolar melemah 0,26 persen ke 104,57 setelah sempat menyentuh 104,85. 

Adapun pada perdagangan hari ini, indeks dolar AS terpantau melemah 0,03 persen atau 0,026 poin ke level 104,161

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun  ditutup melemah di rentang  Rp.14.600 – Rp14.660 hari ini.

Ibrahim menjelaskan rupiah sebelumnya tertekan dolar AS karena berlanjutnya kekhawatiran bahwa tindakan bank sentral untuk menurunkan inflasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi global, meningkatkan daya tarik mata uang safe-haven.

Data dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan klaim pengangguran awal mingguan naik ke level tertinggi dalam tiga bulan, meskipun pasar tenaga kerja tetap menjadi kekuatan ekonomi AS. Di sisi inflasi, indeks harga produsen menunjukkan perlambatan tajam di bulan April ke kenaikan 0,5% dari lonjakan 1,6% bulan sebelumnya.

“Investor telah mencoba untuk menilai seberapa agresif jalur kebijakan bank sentral nantinya. Ekspektasi sepenuhnya diperhitungkan untuk kenaikan lain setidaknya 50 basis poin pada pertemuan bank sentral bulan Juni,” ungkap Ibrahim mengutip FedWatch, dalam riset Jumat (13/5/2022).

Sementara itu, ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada April 2022 akan mengalami surplus sebesar US$3,27 miliar. Adapun, perkiraan surplus tersebut turun jika dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya yang tercatat mencapai US$4,54 miliar.

Surplus perdagangan tersebut didorong oleh kinerja ekspor yang diperkirakan tumbuh sebesar 35,97 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sementara impor diperkirakan tumbuh 34,97 persen yoy.

Josua mengatakan penurunan surplus dipengaruhi oleh penurunan kinerja ekspor secara bulanan mempertimbangkan penurunan rata-rata harga komoditas global seperti CPO -4,4 secara bulanan (month-to-month/mtm), batu bara -5,58 persen mtm, dan karet alam -2,25 persen mtm.

“Lebih lanjut, secara khusus untuk volume ekspor batu bara cenderung menurun mengingat volume ekspor batu bara pada Maret 2022 mencatatkan kenaikan yang signifikan dalam 5 tahun terakhir,” katanya kepada Bisnis, Jumat (13/5/2022).

Sumber Bisnis.com

You cannot copy content of this page