Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Selasa 26 Oktober 2021

  • by

Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (25/10/2021) ditutup melemah 0,25 persen atau 35 poin ke level Rp14.157 per dolar AS.

Rupiah diperkirakan mengukuti gerak mata uang di Asia terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (26/10/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, yen Jepang terpantau melemah 0,17 persen, dolar Hong Kong terdepresiasi 0,17 persen, sedangakan yuan China melemah tipis 0,01 persen.

Di sisi lain, won Korea Selatan menguat 0,24 persen, baht Filipina naik 0,12 persen, sedangkan ringgit Malaysia terapresiasi 0,02 persen.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (25/10/2021) ditutup melemah 0,25 persen atau 35 poin ke level Rp14.157 per dolar AS.

Pada hari ini, pergerakan rupiah dan mata uang lainnya di Asia diperkirakan masih dipengaruhi indeks dolar AS.

Adapun indeks yang melacak kekuatan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya tersebut terpantau menguat 0,059 poin atau 0,06 persen ke level 93,872 pada pukul 08.11 WIB.

Dolar AS stabil pada akhir perdagangan Senin setelah melonjak dari level terendah satu bulan karena para pedagang mempertimbangkan prospek suku bunga yang lebih tinggi untuk berbagai mata uang dan mempertimbangkan data ekonomi dan komentar bank sentral yang dapat memengaruhi posisi mereka.

Perubahan tampaknya menunjukkan bahwa pasar telah menurunkan dolar terlalu banyak baru-baru ini karena ekspektasi bahwa inflasi di luar AS akan memaksa kenaikan suku bunga untuk mata uang lain lebih cepat daripada untukĀ greenback.

Ancaman terhadap posisi saat ini bisa datang pada Kamis (28/10) dari Bank Sentral Eropa dan dari data ekonomi AS serta dari data inflasi AS dan Eropa pada Jumat (29/10), serta pertemuan Bank Sentral Kanada pada Rabu (27/10). Federal Reserve AS akan menggelar pertemuan minggu depan.

“Ada begitu banyak risiko peristiwa yang terjadi minggu ini dan dolar telah berkinerja buruk selama dua minggu terakhir, sehingga pasar mulai membeli kembali dolar,” kata Joseph Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions, dilansir Antara, Selasa (26/10).

“Apa yang telah menumpulkan kilau dolar akhir-akhir ini adalah gagasan bahwa bank sentral lain tampaknya siap untuk menaikkan suku bunga sebelum Fed,” katanya.

Sumber Bisnis.com