Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 25 April 2022

  • by

Rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi cenderung berakhir melemah di rentang Rp14.350-Rp14.380 pada awal pekan ini.

Nilai tukar rupiah diprediksi terpengaruh oleh potensi penguatan dolar AS pada perdagangan hari ini, Senin (25/4/2022).

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi cenderung berakhir melemah di rentang Rp14.350-Rp14.380 pada awal pekan ini.

Menurut Ibrahim sentimen datang dari kenaikan angka inflasi yang menjadi masalah serius. Inflasi tak hanya terjadi di negara berkembang dan negara pasar berkembang saja, tetapi juga negara maju.

“Peningkatan inflasi di berbagai belahan dunia merupakan dampak dari konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung,” kata dia dalam riset harin, dikutip Senin (25/4/2022).

Ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina menyebabkan tingginya harga komoditas, terutama harga energi dan makanan yang berdampak langsung kepada seluruh negara. Selain inflasi, konflik kedua negara juga berdampak pada jalur perdagangan. Ketegangan ini membuat masalah dalam rantai pasokan global, serta membuat perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

“Indonesia ikut terkena dampaknya dengan naiknya harga komoditas, sehingga mengakibatkan inflasi yang tinggi dan ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 yang kemungkinan juga akan menurun,” kata Ibrahim.

Sementara itu, dari luar negeri, Emmanuel Macron yang kembali terpilih menjadi Presiden Prancis berhasil memperkuat mata uang euro.

Mengutip Bloomberg, Senin (25/4/2022), indeks dolar AS bertahan menguat pada akhir perdagangan Jumat. Yen stabil menjelang pertemuan Bank of Japan minggu ini, yang diperkirakan akan menggarisbawahi perbedaan kebijakan moneter dengan AS.

Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mendukung kenaikan suku bunga 50 basis poin bulan depan dan setidaknya satu lagi langkah seperti itu. Hal ini menegaskan pendekatannya yang paling berani untuk mengekang harga yang melonjak. Sinyal pengetatan yang lebih kuat dari Bank Sentral Eropa juga melemahkan selera risiko.

“Ada sedikit untuk mencegah pesimisme investor karena ekspektasi inflasi dan suku bunga mulai menggigit. Khususnya karena ketidakpastian lingkungan makro, ekspektasi rendah sehubungan dengan perkiraan dan panduan ke depan, membangun ekspektasi yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya,” kata Geir Lode, kepala ekuitas global di Federated Hermes Ltd., dalam sebuah catatan.

Sumber Bisnis.com