Omicron Bikin The Fed “Puyeng”, Rupiah Curi Peluang Menguat!

  • by

Rupiah melemah 0,14% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.320/US$ awal pekan kemarin. Kecemasan akan penyebaran virus corona varian Omicron membuat rupiah jeblok hingga 0,42% di awal perdagangan, sebelum perlahan memangkas pelemahan setelah sentimen pelaku pasar mulai membaik.

Kini, rupiah berpeluang berbalik menguat pada perdagangan hari ini, Selasa (30/11). Sebab sentimen pelaku pasar semakin baik setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, mengatakan tidak perlu melakukan lockdown akibat Omicron.

“Jika masyarakat sudah divaksin dan mengenakan masker, tidak perlu lagi dilakukan¬†lockdown. Selain itu tidak akan ada pembatasan perjalanan,” kata Biden dalam konferensi pers Senin kemarin, sebagaimana diwartakan¬†CNBC International.

Sementara di sisi lain, ketua bank sentral AS (The Fed), Jerome Powell, mengatakan Omicron berisiko melambatkan pertumbuhan ekonomi AS dan membuat outlook inflasi semakin rumit. 

“Kenaikan kasus Covid-19 belakangan ini, dan munculnya varian Omicron memunculkan risiko menurunnya pasar tenaga kerja serta aktivitas ekonomi dan meningkatkan ketidapastian terhadap inflasi,” kata Powell dalam pidato yang akan disampaikan kepada Senat, sebagaimana dikutip CNBC International, Senin (29/11).

“Kecemasan yang meningkat membuat masyarakat secara pribadi enggan untuk bekerja, yang akan memperlambat kemajuan pemulihan pasar tenaga kerja dan gangguan rantai pasokan semakin intensif,” tambahnya.

Dengan ketidakpastian yang dimunculkan oleh Omicron, The Fed tentunya akan berhati-hati dalam mengetatkan kebijakan moneter, dan kemungkinan tidak akan agresif menaikkan suku bunga.

Secara teknikal, rupiah masih tertahan di bawah rerata pergerakan 200 hari (moving average 200/MA 200) di kisaran Rp 14.340/US$. Artinya sudah dua hari beruntun MA 200 menahan pelemahan rupiah. Kemarin, level tersebut memang sempat ditembus, tetapi rupiah masih mengakhiri perdagangan di bawahnya.

Jika level tersebut ditembus, rupiah berisiko melemah ke Rp 14.385/US$. Jika hari ini mengakhiri perdagangan di atas MA 200, maka tekanan bagi rupiah akan semakin besar.

Tekanan bagi rupiah juga cukup besar melihat indikator Stochastic pada grafik harian bergerak naik tetapi belum mencapai wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Ketika USD/IDR mencapai overbought, maka kemungkinan akan berbalik turun. Artinya, selama belum mencapai wilayah overbought tekanan rupiah masih cukup besar.

Sementara itu MA 100 di kisaran Rp 14.300/US$ hingga Rp 14.290/US$ menjadi support terdekat yang harus dilewati rupiah agar bisa menguat lebih lanjut.

Sumber CNBC Indonesia