Rupiah Cuma Drop Tipis, Saat Dolar AS Ngamuk karena Dibuang

  • by

Dolar Amerika Serikat (AS) bangkit dari tekanan dan mengamuk sejak Jumat malam pekan lalu, meski demikian, rupiah hanya melemah tipis di awal perdagangan Senin (9/8/2021). Artinya, rupiah cukup kuat menahan tekanan dari eksternal.

Melansir dara Refintiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah tipis 0,07% ke Rp 14.360/US$. Setelahnya, rupiah sempat stagnan di Rp 14.350/US$. Tetapi, rupiah kembali melemah 0,1% ke Rp 14.365/US$ pada pukul 9:10 WIB.

Pasca pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) Kamis (29/7/2021) lalu, dolar AS sebenarnya mengalami tekanan. Sebabnya, The Fed memberikan sinyal tidak akan melakukan tapering di tahun ini.

Setelahnya rilis dara produk domestik bruto (PDB) dan inflasi AS dilaporkan lebih rendah dari prediksi. Dolar AS pun terpuruk.

Namun, spekulasi tapering atau pengurangan nilai pembelian aset (quantitative easing/QE) kembali muncul pada pekan lalu akibat pernyataan wakil ketua The Fed, Richard Clarida, yang berbicara dalam sebuah acara dengan tema Outlooks, Outcomes, dan Prospects for U.S. Monetary Policy” yang diadakan oleh Peterson Institute for International Economics.

Dalam acara tersebut Clarida mengindikasikan tapering bisa dilakukan di tahun ini, dan suku bunga akan dinaikkan pada awal 2023.

“Anda duduk di sini dan melihat inflasi sudah jauh di atas target dan pasar ketenagakerjaan terus membaik menuju level pra-pandemi. Menurut saya, ini terdengar seperti kami harus bersiap,” kata Richard Clarida, Wakil Ketua The Fed, dalam wawancara bersama Washington Post.

Pernyataan Clarida kemudian didukung rilis data tenaga kerja AS yang menunjukkan perbaikan lebih lanjut. Departemen Tenaga Kerja AS Jumat lalu melaporkan sepanjang bulan Juli perekonomian AS mampu menyerap tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payrolls/NFP) sebanyak 943.000 orang, lebih tinggi dari hasil polling Reuters 880.000 orang.

Sementara tingkat pengangguran juga turun menjadi 5,4% dari bulan Juni 5,9%, dan lebih tajam dari prediksi 5,7%. Selain itu, rata-rata upah per jam juga mencatat pertumbuhan 0,4% dari bulan sebelumnya.

Pasca rilis data tersebut dolar AS langsung melesat 0,6%, dan pagi ini berlanjut menguat 0,1% pagi ini.

Sumber CNBC Indonesia